Rakor DTPHP Bersama Bupati Komitmen Kembangkan Sektor Pertanian, Akan Hadirkan 2000 Hektare Lahan Baru

Advertorial, Daerah426 Dilihat

Kutim — Rapat Koordinasi (rakor) pertanian dan peternakan Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dihadiri dan dibuka langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.

Kepala DTPHP, Dyah Ratnaningrum memaparkan beberapa daerah yang berpotensi untuk dilakukan cetak sawah. Daerah itu antara lain, Kombeng, Bengalon, dan Long Mesangat.

“Dalam waktu dekat ini kami bakal cetak sawah 90 hekater di Miau Baru, Kombeng,” kata Dyah Ratnaningrum dalam agenda yang berlangsung di Hotel Royal Victoria Sangatta, Jumat (7/6).

Dyah juga menjelaskan potensi pertanian di Kutim. Seperti, ada beberapa potensi yang sebenarnya sawahnya sudah ada, namun ditinggalkan pemiliknya atau tidak digarap dengan baik.

“Berdasarkan peta LP2P, kita masih mempunyai Kurang lebih 5.000 hekater cadangan lahan yang bisa diolah jadi sawah. Akan tetapi, ada tidak pengelolanya,” ungkap

“Saat ini, petani kita sudah sepuh-sepuh. Sementara para milenial banyak kerja di bidang lain luar pertanian,” tambahnya.

Untuk itu, pihak akan melakukan identifikasi terlebih dahulu sebelum melakukan cetak sawah. Hal utama yang mereka identifikasi adalah siapa yang mengelola sawah tersebut nantinya.

Untuk pembelian alat pertanian modern ini, Dyah menjelaskan dananya bersumber dari APBD. Selain itu mereka akan disupport ABPN.

“Kita disupport APBN karena program ini Inline dengan program Kementerian pertanian RI, yakni modernisasi alat mesin pertanian. Usulan sudah dikirim, karena ini programnya sejalan dengan Kementerian Pertanian, kami disambut baik Kementerian Pertanian,” tandasnya.

Hal ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Kutim yang ingin meningkatkan sektor pertanian.

iMenurut Ardiansyah Sulaiman, peningkatan sektor pertanian merupakan upaya memaksimalkan potensi Kutim.

Karena itu, Pemkab Kutim mendorong upaya untuk memperluas lahan sawah. Pasalnya kendala lahan sawah menjadi salah satu penyebab potensi pertanian di Kutim tidak optimal.

Kendala lainnya, sebut Ardiansyah, adalah jumlah petani yang kurang. “Kebanyakan petani di Kutim sudah lanjut usia, sementara para pemuda lebih memilih bekerja di bidang lain ketimbang jadi petani,” kata dia.

“Karena kurangnya petani milenial, kami bermaksud melakukan modernisasi alat pertanian. Modernisasi alat pertanian ini, diharapkan jadi solusi dari terbatasnya jumlah petani di Kutim,” ujar Ardiansyah.

Dia menargetkan 2 tahun mendatang tenaga petani Kutim yang masih kurang bisa segera diatasi, “Dan awal tahun 2024 ini kami harapkan ada 2.000 hektare lahan baru,” pungkasnya.(adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *